featuredgoogle

Suatu hari, istri saya tiba-tiba nyeletuk “bikin game mirip kata-berkait, yuk?” Saya ingat nama itu di kuis yang tayang di TV. Tapi Jujur, saya sudah lupa itu kuis yang mana. Bukannya mau jadi sok muda, tapi kuis itu sudah laaaaaaamaaaaaaaaaa (tambahin sendiri ‘a’-nya) sekali ditayangkan di TV. Lalu istri saya dengan semangat menjelaskan aturan mainnya. Setelah dijelaskan…. akhirnya saya ambil kesimpulan……”Tidak menarik”.

Pikir saya apa menariknya menebak kata majemuk?  Nilai bahasa indonesia “7” (dari katrolan 6) di rapor sudah menjelaskan ketertarikan (dan kemampuan) saya di bahasa Indonesia. Tapi mungkin nasib baik saya punya istri yang “ngototan” dan pantang menyerah. Dia ajak saya mensimulasikan permainan ini di kertas.  Saat itulah saya baru dapat “feel“-nya.  Saya berpikir, kalau bermain di kertas saja sudah seru, apalagi kalau bisa bermain dengan berbagai lawan dari seluruh Indonesia. Tidak percaya dengan validasi dari diri sendiri, saya coba validasikan ide ini ke beberapa orang, dan mereka suka.

Esok harinya dimulailah project RantaiKata.

Keputusan pertama yang harus kita ambil adalah apakah kita menggunakan Unity atau native Android/iOS untuk development clientnya. Kalau menggunakan Unity, kita bisa buat satu project untuk berbagai macam OS. Downsidenya adalah Unity relatif lebih lemot dibandingkan native. Kalau pilih native maka performanya akan smooth banget, tapi kita harus buat project sebanyak platformnya jadi sumber daya tenaga yang dibutuhkan cukup besar.  Setelah berbagai macam pertimbangan akhirnya diputuskan menggunakan native Android terlebih dahulu. Untuk servernya awalnya kita gunakan NodeJS, tapi pada akhirnya diputuskan menggunakan laravel.

Dua bulan dari initial development, kita menemukan banyak hal yang menarik. Salah satunya adalah munculnya potensi pendidikan dari RantaiKata. Jujur, ini bukan niat awal kita. Awalnya kita hanya ingin membuat permainan yang asyik dimainkan. Tapi seiring perjalanan, kita sadar ada banyak pasangan kata yang tidak semua orang tahu dan rantai kata bisa membantu mengenalkan kata-kata tersebut. Saya baru kenal “gelak nabi”, “gelak setan”, dan banyak kata lain setelah bermain rantai kata (jangan khawatir, soal yang susah kita simpan untuk pemain dengan level yang tinggi… karena kita memang baik hati). Bahasa Indonesia yang selama ini menjadi momok saya, bisa menjadi menarik.

Rantaikata Goes To Yogya

Jpeg

Bulan April kita bawa RantaiKata ke In.game Yogya. Acaranya seru abis dan kita banyak belajar dari sana. Kita berangkat naik kereta hari sabtu dan hari minggunya expo. Karena gamenya masih ada bug, akhirnya kita ngoding di kereta :P. Bug nya sendiri juga lucu. Kalau pemainnya banyak, maka pemain nya bisa kaya spectator mode begitu. Jadi… kita tidak sengaja punya FITUR spektator ><.

IMG_1683

 

Beberapa pelajaran yang kita dapat dari event ini: pertama adalah masalah persona dari pemain RantaiKata. Dari melihat reaksi beberapa pemain, ternyata mayoritas pemain yang asyik (bahkan sampai tidak mau disuruh berhenti) adalah CEWEK. Mungkin karena genre-nya quiz dan lebih menonjolkan kemampuan linguistik. Tapi dari situ kita buat desain, pemilihan font, dan karakternya yang girl friendly, tapi tidak terlalu girly sehingga cowok main pun masih cocok. Pelajaran yang kedua adalah masalah pentingnya tutorial. Kebanyakan pemain yang belum mengerti merasa bingung dan frustasi. Tapi begitu mengerti, mereka langsung asyik bermain. Dari situ akhirnya kita putuskan untuk membuat tutorial adalah prioritas pertama sebelum aplikasi ini direlease.

Pelajaran ketiga adalah Yogya adalah kota yang ramah kantong. Parkir motor di Yogya cuman Rp 1000. Makanan nya juga murah-murah dan enak-enak. InsyaAllah kapan-kapan pingin dolan kesana lagi.

Open Beta

Pada saat ini status development dari Rantai Kata adalah Open Beta. Teman-teman yang ingin mencoba bisa mendownload dari alamat ini :

 

Jadi jika ada masukan, monggo bisa kirimkan email ke halo@rantaikata.com, atau bisa PM saya di Facebook. Kami akan sangat senang sekali menerima masukan yang membangun dari teman-teman semua.